Downloads · 30 days
41
22% of all-time downloads
INTISARI/intisari-indonesian-chat-v5
intisari-indonesian-chat-v5 is a machine learning model from INTISARI. Use it for the machine learning task on the model card, and read the license before you ship it in a product. The card lists the license as apache-2.0.
INTISARI-CHAT-V5 adalah LLM (Large Language Model) Bahasa Indonesia berukuran kecil yang dilatih dari awal menggunakan causal language modeling / next-token prediction. Model ini dirancang untuk mempelajari pola bahas…
Downloads · 30 days
41
22% of all-time downloads
All-time downloads
188
Public
Repo size
616 MB
Likes
0
Public
Click a slice to open those files.
.gguf308 MB · 100%
From the Hugging Face model README
INTISARI-CHAT-V5 adalah LLM (Large Language Model) Bahasa Indonesia berukuran kecil yang dilatih dari awal menggunakan causal language modeling / next-token prediction. Model ini dirancang untuk mempelajari pola bahasa, struktur kalimat, kosakata, dan text continuation dalam Bahasa Indonesia, dengan fokus tambahan pada pola percakapan casual.
Model ini merupakan eksperimen conversational language modeling berukuran kecil, bukan model knowledge-heavy dan bukan model yang dirancang untuk penalaran atau factual question answering.
Coba model secara langsung:
| Parameters | ~66.2M |
| Reported Parameters | 53.3M* |
| Training Samples | 64,284 |
| Context Length | 512 tokens |
| Epochs | 4 |
| Training Time | ~9.12 hours |
| Training Steps | 15,264 |
| Validation Loss | 0.462 |
| Validation Perplexity | 1.59 |
| Validation Accuracy | 91.9% |
| Samples/sec | 7.4 |
| Tokens/sec | 199.9 |
* Parameter count pada metadata evaluasi tercatat 53.3M, sementara ukuran arsitektur/checkpoint aktual adalah sekitar 66.2M parameter. Angka 66.2M digunakan sebagai ukuran model aktual.
vocab_size: 4106
n_layers: 22
hidden_dim: 512
context_length: 512
Model menggunakan arsitektur Transformer decoder dengan vocabulary yang relatif kecil dan context length 512 tokens.
Ukuran vocabulary dipilih untuk eksperimen Bahasa Indonesia dengan fokus pada pola percakapan, sehingga model dapat mempelajari token dan pola linguistik yang umum muncul dalam conversational text.
Model dilatih dari scratch menggunakan Flatbuild pada 64,284 training samples selama 4 epoch.
Validation metrics menunjukkan penurunan loss yang konsisten pada setiap epoch.

| Epoch | Val Loss | PPL | Accuracy |
|---|---|---|---|
| 1 | 2.241 | 9.40 | 50.7% |
| 2 | 1.403 | 4.07 | 69.4% |
| 3 | 0.780 | 2.18 | 84.5% |
| 4 | 0.462 | 1.59 | 91.9% |
Training menunjukkan peningkatan yang cukup besar selama empat epoch. Perplexity turun dari 9.40 menjadi 1.59, sementara token-level accuracy meningkat dari 50.7% menjadi 91.9%.
Namun, seperti eksperimen INTISARI sebelumnya, token-level metrics tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator kualitas percakapan.
Model dievaluasi menggunakan 100 prompt dari berbagai kategori percakapan Bahasa Indonesia.
Generation menggunakan sampling:
temperature: 0.7
top_k: 50
top_p: 0.95
max_new_tokens: 80
seed: 42
Kategori evaluasi mencakup:
| Metric | Result |
|---|---|
| Prompt Count | 100 |
| Average Generated Tokens | 12.93 |
| Median Generated Tokens | 12 |
| Min Tokens | 3 |
| Max Tokens | 30 |
| EOS Rate | 0% |
| Max Token Rate | 0% |
| Repetition 2-gram | 9.75% |
| Repetition 3-gram | 4.18% |
| Distinct-2 | 78.95% |
| Distinct-3 | 93.96% |
| Degeneration Rate | 0% |
| Average Topic Overlap | 22.42% |
| Topic Drift Rate | 25% |

Evaluasi generation menunjukkan bahwa model sudah mampu menghasilkan respons pendek yang umumnya menyerupai percakapan casual Bahasa Indonesia.
Generation juga relatif pendek. Median generation adalah 12 tokens dan tidak ditemukan kasus generation mencapai batas maksimum 80 tokens.

Repetition 2-gram dan 3-gram masih ditemukan, tetapi evaluasi tidak mendeteksi degeneration/looping berat pada 100 prompt yang diuji.
gue, lo, udah, nih, dan dongaku, gue, dan sayaPrompt
<|user|>
Halo
<|assistant|>
Output
Haha, gue juga rasa lebih baik kita ngobrol santai!
Respons sudah mengenali konteks greeting dan menghasilkan ajakan ngobrol, walaupun formulasi kalimat masih belum sepenuhnya natural.
Prompt
<|user|>
Apa kabar?
<|assistant|>
Output
Aku baik baik, terima kasih.
Ini merupakan contoh respons sederhana yang sesuai dengan intent prompt.
Prompt
<|user|>
Udah makan?
<|assistant|>
Output
Udah. Kamu?
Model dapat menghasilkan pola conversational response yang sangat pendek dan natural.
Prompt
<|user|>
Weekend mau ngapain?
<|assistant|>
Output
Gue mau ke pantai, mau berenang dan bermain pasir.
Model mampu menghasilkan continuation yang sesuai dengan konteks aktivitas weekend.
Prompt
<|user|>
Gue suka main game
<|assistant|>
Output
Gue juga suka main game, apa game yang kamu suka?
Model menunjukkan pola conversational yang baik dengan memberikan respons sekaligus mengembalikan pertanyaan.
Prompt
<|user|>
Nanti ngobrol lagi ya
<|assistant|>
Output
Nanti aku siap ngobrol lebih lama
Model dapat mengenali pola closing dan memberikan respons yang relevan.
Walaupun token-level accuracy mencapai 91.9%, generation masih memperlihatkan keterbatasan yang penting.
Prompt
<|user|>
Gue dapet promosi
<|assistant|>
Output
Gue juga pernah merasa sama, kalo gue denger kalo ga, gue langsung ke mall, apa yang gue lakukan untukkan?
Respons mempertahankan bentuk conversational, tetapi tidak mempertahankan konteks promosi secara baik.
Prompt
<|user|>
Gue lagi sakit
<|assistant|>
Output
Mungkin karena mereka tidak di latih
Model gagal memberikan continuation yang sesuai dengan konteks kesehatan.
Prompt
<|user|>
Beliin gue makan dong
<|assistant|>
Output
Haha, gue juga suka makan sandwich! Gue suka makan sandwichhdhhon.
Pola kalimat masih conversational, tetapi muncul token/substring malformed pada akhir generation.
Prompt
<|user|>
Lo suka traveling?
<|assistant|>
Output
Iya, gue suka banget main game strategi, apa yang paling kamu suka?
Respons masih berbentuk percakapan tetapi berpindah dari travel ke gaming.
INTISARI-CHAT-V5 tetap merupakan model language modeling berukuran kecil yang belajar melalui objective causal language modeling / next-token prediction.
Berbeda dengan base model murni, dataset training V5 difokuskan pada pola percakapan sehingga model belajar distribusi bahasa yang lebih dekat dengan conversational text.
Tujuan eksperimen ini bukan untuk membangun chatbot yang memiliki pengetahuan luas, tetapi untuk menguji seberapa jauh model kecil dapat mempelajari:
Karena itu, kemampuan knowledge retrieval, factual answering, reasoning, dan long-form generation tidak menjadi target utama model ini.
Eksperimen INTISARI-CHAT-V5 mencoba menjawab pertanyaan:
Seberapa jauh model Bahasa Indonesia berukuran kecil dapat mempelajari pola percakapan hanya dari training data conversational yang relatif terbatas?
Hasil training menunjukkan peningkatan yang sangat besar:
Hal yang penting dari eksperimen ini adalah bahwa akurasi token yang tinggi tidak otomatis berarti kualitas percakapan tinggi.
Model dapat sangat baik dalam memprediksi token berdasarkan distribusi training data, tetapi masih menghasilkan respons yang tidak menjawab intent, berpindah topik, atau membentuk kalimat yang tidak masuk akal.
Training metrics:
Loss 0.462
PPL 1.59
Accuracy 91.9%
Generation metrics:
Degeneration Rate 0%
Topic Drift Rate 25%
Distinct-2 78.95%
Distinct-3 93.96%
Perbedaan ini menunjukkan bahwa evaluation pada dua level diperlukan:
Untuk model conversational kecil, generation-level evaluation menjadi sangat penting.
flatbuild generate outputs/intisari-chat-v5/.../checkpoints/final \
--prompt "<|user|>\nHalo\n<|assistant|>\n" \
--max-new 80 \
--temperature 0.7
Model menggunakan conversational format:
<|user|>
Pesan user
<|assistant|>
Respons assistant
Model dilatih menggunakan 64,284 training samples yang berfokus pada percakapan Bahasa Indonesia.
Dataset dirancang untuk mencakup pola percakapan dasar seperti:
Fokus dataset bukan memberikan knowledge coverage yang luas, melainkan meningkatkan kemampuan model dalam mengenali dan melanjutkan pola percakapan sehari-hari.
Eksperimen berikutnya dapat difokuskan pada:
Apache 2.0
Dilatih dari scratch menggunakan Flatbuild.